Jumat, 25 Juni 2010

pustaha


PUSTAHA A 12332

Poda ni si aji mamis ma inon 2

Petunjuk untuk menghancurkan musuh (poda ni si aji mamis) yang digunakan di saat perang (dalam bahasa Batak kuno perang selalu disebut sebagai bisara na godang - "adat yang mulia"). Dikatakan pada akhir halaman pertama dan awal halaman kedua (A3-4) bahwa pustaha ini diuntukkan Guru Habinsaran Hata ni Aji dari Silaga-laga yang dikatakan na so nung talu di bisara na godang - yang tidak pernah kalah berperang. Sebagaimana dapat dilihat dari bahasa dan aksara yang digunakan naskah ini dapat dipastikan berasal dari Toba. Bagi orang yang belum mengenal surat Batak yang asli huruf-huruf berikut perlu diperkenalkan:
3

Ketiga huruf tersebut merupakan salah satu variasi Surat Batak Toba yang lazim digunakan dalam naskah-naskah Batak.
Pustaha ini dapat dibagi atas beberapa BAB yang semuanya ditandai oleh sebuah bindu (ornamen). Bagian pertama (A1-33) adalah poda ni si aji mamis diikuti oleh poda ni pormamis na lima - ramalan berdasarkan kelima bagian hari (A33-37 dan B3-7), poda ni pehu na pitu - ramalan berdasarkan ketujuh pehu (B8), pangarumai (B9-15), poda ni porsili (B16-22), pinangan ni ari (B22-28), serta porsimboraon - cara pembuatan ajimat (B28-38).

4 Pustaha berukuran 14,2 x 12,5 cm ini terdiri atas 39 halaman yang ditulisi pada kedua sisi yang dinamakan A dan B. Kulit kayu (laklak) dilem pada dua papan kayu yang berfungsi sebagai sampul (lampak). Ternyata laklak pustaha ini sudah robek sebelum ditulisi sehingga terpaksa dijahit sebagaimana dapat dilihat pada foto ini.
Kedua ujung laklak, yaitu halaman A1 dan B1 direkat pada lampa. Halaman A2, A38, A39, B2 dan B39 dibiarkan kosong.
Berikut ini Anda dapat melihat setiap halaman pustaha tersebut. Naskah asli tersimpan di museum antropologi Übersee-Museum di Bremen, Jerman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.