Senin, 28 Juni 2010

Makanan Khas sumatra utara yang terbuat dari bahan Dasar Ikan Mas:

1. Naniura
Naniura adalah merupakan salah satu jenis masakan yang dapat di nikmati dengan tanpa dimasak.
Dan di jamin bahwa memakan makanan ini sangatlah sehat, dikarenakan tidak dilengkapi dengan
zat – zat kimia atau jenis bumbu – bumbu masakan modern yang banyak beredar saat ini dipasaran.
Bahan-Bahan yang digunakan:

0,5 kilogram ikan mas

3 biji asam jungga

seperempat ons andaliman

1 ons kemiri

5 cm lengkuas

5 cm kunyit

2 ikat rias

5 siung bawang merah

3 siung bawang putih

setengah ons cabe merah

Cara memasak :

1. Ikan mas dibersihkan dari sisik, kemudian ikan dibelah dua dari punggung ikan. Duri ikan dikeluarkan semuanya. Sesudah bersih, ikan digarami dan diasami. Dibiarkan selama 5 jam.

2. Kemiri di gongseng, dibiarkan dulu. Jahe, kunyit, bawang merah dan putih di goreng. Kemudian rias dikukus, sedangkan cabe digiling. Seluruh bumbu kemudian diulek (tumbuk).

3. Bumbu dimasukkan atau diolesi ke permukaan ikan. Biarkan satu jam lagi.

4. Siap dihidangkan

naniura


2. Arsik
Arsik adalah salah satu masakan khas kawasan Tapanuli yang populer. Masakan ini dikenal pula sebagai ikan mas bumbu kuning. Ikan mas adalah bahan utama, yang dalam penyiapannya tidak dibuang sisiknya.

Bumbu arsik sangat khas, mengandung beberapa komponen yang khas dari wilayah pegunungan Sumatera Utara, seperti andaliman dan asam cikala (buah kecombrang), selain bumbu khas Nusantara yang umum, seperti lengkuas dan serai. Bumbu-bumbu yang dihaluskan dilumuri pada tubuh ikan beberapa saat. Ikan kemudian dimasak dengan sedikit minyak dan api kecil hingga agak mengering.

Bahan :
- Ikan mas 1 ekor, bersihkan sisik, ingsang dan isi perut -
- Air jeruk nipis 1 sdm -
- Tomat merah 2 buah, belah jadi 4 -
- Serai 2 batang, memarkan -
- Andaliman 2 sdt -
- Air 150 ml -
- Bawang batak 50 gram, buang daunnya -
- Bunga kecombrang 1 buah -
- Santan 50 ml -

Bumbu halus :
- Cabai merah 7 buah -
- Bawang merah 4 bitur -
- Bawang putih 2 siung -
- Kemiri 2 butir -
- Kunyit 3 cm -
- Jahe 2 cm -
- Garam secukupnya -

Cara membuat :
1. Lumuri ikan dengan air jeruk nipis, diamkan selama 15 menit, tiriskan.
2. Lumuri ikan dengan bumbu halus hingga menutupi seluruh bagian ikan.
3. Siapkan wajan letakkan bunga kecombrang dan serai didasar wajan. Letakkan ikan mas, tambahkan air, garam, gula pasir, santan dan andaliman, aduk rata.
4. Masak dengan api kecil hingga ikan matang dan bumbu meresap.
5. Tambahkan tomat dan bawang batak, masak hinggakuah sedikit mengental, angkat.
6. Sajikan segera.

arsik



Jumat, 25 Juni 2010

pustaha


PUSTAHA A 12332

Poda ni si aji mamis ma inon 2

Petunjuk untuk menghancurkan musuh (poda ni si aji mamis) yang digunakan di saat perang (dalam bahasa Batak kuno perang selalu disebut sebagai bisara na godang - "adat yang mulia"). Dikatakan pada akhir halaman pertama dan awal halaman kedua (A3-4) bahwa pustaha ini diuntukkan Guru Habinsaran Hata ni Aji dari Silaga-laga yang dikatakan na so nung talu di bisara na godang - yang tidak pernah kalah berperang. Sebagaimana dapat dilihat dari bahasa dan aksara yang digunakan naskah ini dapat dipastikan berasal dari Toba. Bagi orang yang belum mengenal surat Batak yang asli huruf-huruf berikut perlu diperkenalkan:
3

Ketiga huruf tersebut merupakan salah satu variasi Surat Batak Toba yang lazim digunakan dalam naskah-naskah Batak.
Pustaha ini dapat dibagi atas beberapa BAB yang semuanya ditandai oleh sebuah bindu (ornamen). Bagian pertama (A1-33) adalah poda ni si aji mamis diikuti oleh poda ni pormamis na lima - ramalan berdasarkan kelima bagian hari (A33-37 dan B3-7), poda ni pehu na pitu - ramalan berdasarkan ketujuh pehu (B8), pangarumai (B9-15), poda ni porsili (B16-22), pinangan ni ari (B22-28), serta porsimboraon - cara pembuatan ajimat (B28-38).

4 Pustaha berukuran 14,2 x 12,5 cm ini terdiri atas 39 halaman yang ditulisi pada kedua sisi yang dinamakan A dan B. Kulit kayu (laklak) dilem pada dua papan kayu yang berfungsi sebagai sampul (lampak). Ternyata laklak pustaha ini sudah robek sebelum ditulisi sehingga terpaksa dijahit sebagaimana dapat dilihat pada foto ini.
Kedua ujung laklak, yaitu halaman A1 dan B1 direkat pada lampa. Halaman A2, A38, A39, B2 dan B39 dibiarkan kosong.
Berikut ini Anda dapat melihat setiap halaman pustaha tersebut. Naskah asli tersimpan di museum antropologi Übersee-Museum di Bremen, Jerman.
Diberdayakan oleh Blogger.